Lari

Sebelumnya nggak pernah kepikiran kalau gue akan sepenasaran ini sama olahraga lari. Waktu masih sekolah dulu, paling nggak suka sama mapel OR atletik dan ambil nilai dari hasil lari keliling stadion. Capek. Panas. Keringetan. Nggak suka – banget.

Dan sebagai skolioser, gue selalu berpikir kalau gerakan lari berkontribusi dalam memberikan beban berat ke tulang punggung gue. So running is off the list, totally.

But people change, yes ? Awalnya cuma karena pengen nipisin kaki yang ketebalannya sangat merata dan awet, terpaparlah gue dengan olahraga lari ini beberapa bulan lalu. Mulanya hanya sanggup lari 2 menit, sampai akhirnya nekat ikut virtual race 5K and I finished it. What a personal breakthrough! Bangga!

Tapi bagaimanapun, gue termasuk yang cukup telat untuk mulai olahraga lari ini. Jadi kalau nggak hati-hati, I could get myself injured atau gue nggak akan bisa lari berlama-lama. To this extent, I decide to learn how to run.

Belajar Lari

Awal-awal mulai lari, gue banyak tanya ke teman yang jam larinya udah ribuan km. Ternyata lari nggak sekedar lari aja. Banyak hal yang harus diperhatikan pada saat kita berlari karena itu bisa pengaruh ke endurance, speed, jarak lari dll. Lari adalah repetitive movement di waktu yang nggak sebentar. Jadi kebayang kan kalau gerakan kita ternyata salah dan dilakukan berulang-ulang, apa akibatnya ke tubuh kita. Itulah kenapa gue sekarang belajar lari sama pelatih yang mumpuni di bidangnya. Diajarin teknik dasar lari, latihan kesabaran buat naikin endurance, dan yang penting memperbaiki running form gue yang masih sering bubar.

Sebenernya nggak muluk-muluk juga sih cita-cita gue akan lari ini. Minimal bisa lari 5K dengan nyaman di pace kecil. And I’m totally aware of my physical condition – I have scoliosis, bad posture, overpronation feet dan umurnya udah banyak. So I know that it will take more effort and longer time to get there. Jadi, apa yang perlu dilakukan oleh newbie seperti gue pertama kali? Buy a pair of running shoes, tentunya.

Running Gears

Kadang keliatannya sepele dan nggak penting, but believe me, these gears selain berfungsi memperkeren penampilan kita juga bisa boost up our mood ketika lari:

~ no endorsement yaw ~
  • Running shoes

Life would be a lot easier when you have normal feet. I mean in terms of choosing running shoes. Kalau kakinya overpronation macam gue, agak sedikit repot karena harus cari sepatu yang support si overpronation ini (stability shoes). Buat newbie kaya gue, cukuplah dimulai dari 1 pasang sepatu dulu sampai benar-benar oke larinya. Selanjutnya bolehlah jajan sepatu baru as a reward – misalnya jarak tempuh baru dengan pace yang makin mengecil. Atau tiba-tiba pengen nyobain trail running, that’s a perfect excuse to buy a new pair.

  • Sport watch

Gunanya selain bikin penampilan tangan lo makin keren, si sport watch ini bisa ngukur jarak, pace, cadence (jumlah langkah kaki), heart rate, VO2 max dan bahkan di aplikasi salah satu sport watch ada fitur virtual coach untuk lari 5K atau 10K lengkap dengan menu latihannya. Seru kan.

  • Running tops/bottoms

Lari ini keringetannya kan parah ya. Jadi buat gue, kaos/celana lari yang bahannya nyaman itu penting banget. Paling oke sih yang bahannya dri-fit gitu. Any brands will do, dan yang penting juga: ramah di kantong. $$$.

  • Running sunnies

Ini sebenernya butuh nggak butuh. Tapi kalau gue sih butuh karena belakangan cuaca di Bekasi ini cukup ekstrim ya. Jam 7 pagi aja matahari udah mencrong sinarnya. Silau. And again, it completes your look. By the way, running sunnies beda ya dengan fashion sunnies. Yang kheses untuk lari itu didesain no bounce dan no slip even when sweat is all over your face. Hassle free guaranteed.

  • Music

Gue nggak akan sambil nyanyi juga sih larinya. But this helps you to concentrate and to eliminate noises from the street. Tapi nggak boleh terlalu kencang juga ya pasang musiknya, selain nggak bagus buat telinga juga kita tetap harus aware kalau ada kendaraan yang akan lewat dari belakang kita. Stay safe.

~~~~~~~~~~~~~~

But above all, it’s much better to get yourself trained by a Pro. Seperti yang gue bilang di atas, the correct running form will help you to avoid injuries. Banyak tutorial lari di internet dengan instruksi yang mudah dipahami, tapi tetap tidak bisa menggantikan seorang coach lari. A coach will teach you, train you, motivate you and he is the good source to ask anything about running.

Oh ya, satu lagi yang juga penting adalah warming up dan cooling down. Ini satu dari banyak hal yang bisa menghindarkan kita dari cedera. Postingan selanjutnya, I’ll share with you the many benefits you can get from running.

Cheers!

triumph!

Balak Empat

Gosh, another birthday ?

Yes, Balak Empat. Achievement? 5K run – checked!

Jujurly, having birthdays di 2020 dan 2021 tuh rasanya campur aduk. Antara senang, sedih, dan ugghh this new normal is definitely not normal – feels like it eats away your life and gradually giving you mental breakdown. But everyone is experiencing this and even worst for some of them. Jadi, bersyukurlah.

Bersyukur masih diberi nikmat sehat untuk diri sendiri dan keluarga terdekat di tengah-tengah situasi ini.

Bersyukur masih dikelilingi a bunch of dearest people whose body-soul-and-mind are filled with positivity.

Bersyukur masih punya teman-teman yang peduli satu sama lain and are more than willing to help one another. Support system.

Bersyukur masih bisa berkesempatan ikhtiar sehat by doing exercises, taking vitamins and good food.

Bersyukur masih bisa ngerasain bahagia, sedih, marah, kesal, terharu….karena katanya Reyhan Ismail, Tuhan menciptakan banyak perasaan untuk diungkapkan, bukan untuk ditahan. Eh..

“You are nothing but a number of days, and whenever a day passess away, a part of you passes away” – Hasan Al-Basri.

Stay safe and healthy guys! If I don’t get to see you around, then see you at the other side.

Cheers to 44!

Nyemplung Twice a Week

Sudah menjelang 1 tahun dari pertama kali gue ambil kelas privat berenang di Sport Club komplek sebelah. Dari yang cuma latihan 1x/minggu, sampai sekarang (berusaha) rutin 2x/minggu. Dari yang hanya bisa gaya asal-asalan, sampai sekarang hampir 3 gaya yang udah dikuasai (sombong dikiitt). Dari yang hanya latihan di lebar kolam, sampai sekarang drill nya di panjang kolam. Dan akhirnya, tujuan supaya bisa berenang bolak balik di panjang kolam pun tercapai. Bahagia? Alhamdulillah.

Bisa berenang dengan teknik dan gaya yang benar itu adalah impian gue sejak lama. Tapi ternyata….SUSAH! Kalau lagi konsen benerin  tangan, nanti kaki yang bubar. Kalau konsen ke kaki, tangan yang kemana-mana. Belum urusan atur nafas (umur emang nggak boong). Teknik yang benar ini emang penting, karena selain untuk menghindari cedera juga menjadi salah satu penunjang supaya gue bisa berenang bolak balik di panjang kolam. Selain endurance, tentunya.

Kalau si endurance, latihan yang rajin, konsisten dan set up target, biasanya sih lama-lama pasti akan membaik. Dan  teknik yang bagus akan bikin endurance juga makin oke.

Dan, satu lagi yang nggak kalah penting adalah: relax!

Sebagai atlit renang KW-10, tiap akan drill di panjang kolam selalu ada rasa cemas seperti akan sampaikah gue ke sisi kolam seberang sana. Di tengah perjalanan pun kadang ada rasa panik kalau tiba-tiba rasanya nafas nggak kuat. Atau kaki yang tiba-tiba berasa turun kebawah, atau kayuhan tangan seperti ada yang salah. Tapi saudara-saudaraku semua, percayalah, it’s just your mind playing tricks on you. So what you need to do is just stay relaxed, don’t panic and keep swimming. 

My Killer Coach

Pertengahan tahun ini, coach gue ganti. Lebih muda dari coach sebelumnya, badannya pun lebih kecil. A very warm and cheerful young lady but when it comes to training, she’s one of a hell coach! Kalau lagi kasih drill, bisa sangat kejam hitungan set nya. Belum lagi break time yang terbatas banget dan biasanya setelah 5 set pemanasan baru dikasih break yang nggak boleh lebih dari 2 menit. Seringnya berasa mau pingsan kalau lagi latihan sama dia. Ngeluh-ngeluh cape, nggak akan ditanggapin..hahaha. Awalnya agak kesel karena gue belajar berenang targetnya buat benerin teknik dan I’m not going for some competition juga anyway. Tapi kelamaan gue terbiasa dan terpacu untuk terus ningkatin target latihan. And i’m not suffering alone juga, karena untuk tiap sesi latihan gue ada teman sependeritaan, my swim buddy!!

My Swim Buddy

I met her few months ago, a nice girl, nggak beda jauh lah umurnya sama gue (sepertinya ).  So we both are taking the same schedule for this swimming class and we both share the same torture, pain and misery (*drama). Kalau lagi latihan berdua, it’d be less miserable karena jalannya pasti gantian jadi gue atau dia bisa colongan istirahat agak lamaan. Tapi begitu salah satu nggak masuk, wadawww…..torture is all for you, girl!  

Despite all those tortures and misery, it’s FUN to be in the water (pool) and swim. Not only that you give your body its right to be treated in healthy way, but you also get yourself to socialize. With seniors.

Seniors are the wamest people on earth and they are chatty by nature, especially when you see each other’s face regularly. A brief hello would lead to a long-enough talk about everything. From a long-time-no-see starter, it would end up by you getting a valuable info about a recommended Orthopaedic Surgeon which you might need some time in the future. Dan dari mereka lah elo bisa copy paste semangat untuk stay physically active because they are fully aware that by staying physically active it can improve the quality of their life.

How about you?

 

 

Nyemplung weekly

‘One’s gotta have something enjoyable and fun to do to keep their mind sane’ ~ my quote ~

Selain candy crush’ing dan reading novel, beberapa bulan ini gue lagi teratur berenang seminggu sekali — to keep my mind sane and relax. Nyemplung weekly. The ultimate goal nya sih untuk sehat, karena sadar  selama ini kurang banget gerak/olah tubuh. The other goal nya adalah supaya nanti bisa sombong sedikit, bisa berenang bolak balik dari ujung ke ujung seperti orang-orang lain. Hihihi…

Agar teratur seminggu sekali, gue memutuskan untuk ambil les privat berenang. Belajar berenang dengan gerakan yang benar, nggak cuma asal bisa ngambang di air dan bisa maju. Kalau gerakan benar, gue yakin bisa membantu postur badan gue jadi lebih baik. Apalagi untuk Skolioser seperti gue, olahraga yang sangat dianjurkan adalah berenang. Dan karena gue bukan si body-kinetic-type-of-person, nggak akan bisa lah gue belajar berenang sendiri by learning from youtube or just observing other people.

Jadilah gue berenang teratur di Sport Club komplek sebelah. Dapat coach yang asik banget — anak UNJ semester terakhir — dan sangat paham  dengan kebutuhan mamah muda macam gue. 3 bulan lebih sudah gue latihan sama dia, sekarang satu gaya udah oke (gaya bebas), udah mulai nemu celah enaknya bagaimana. Tinggal belajar satu gaya lagi: gaya punggung. Karena gue skolioser, maka gaya berenang yang dianjurkan hanya gaya bebas dan gaya punggung. Kenapa? Karena di dua gaya ini, pada saat berenang posisi badan dibuat lurus (dari kepala sampai kaki) yang sangat baik dan bisa menjadi salah satu terapi untuk punggung yang terkena skoliosis.

Do it Right to avoid Injuries

Yup. Injuries. Meski berenang sering disebut olahraga paling aman karena sifatnya yang low impact dan berada di dalam air, tapi kalau kita melakukannya dengan gerakan yang salah, maka cedera pun bisa menghampiri kita. Cedera yang terbanyak adalah cedera lutut, disebabkan ketika kaki paddling/kicking the water (hmm mengayuh atau apa ya istilahnya) gerakannya bukan berasal dari otot paha tetapi dari lutut. Rasa sakit akibat cederanya pun tidak serta merta terasakan. Tapi akan muncul beberapa lama kemudian sebagai akumulasi dari gerakan yang salah tersebut. Itu salah satu contohnya.

Untuk gue, kondisi skoliosis dengan pen yang tertanam di punggung membantu menciptakan indikator sendiri untuk gerakan renang yang salah. Kalau setelah berenang terasa pegal dan nyeri di punggung bawah (daerah sekitar tulang ekor), itu tanda-tanda bahwa selama berenang badan gue kurang lurus dan kurang naik. Badan yang kurang naik juga bisa dirasakan dari gerakan kaki. Apabila gerakan kaki terasa berat, maka artinya badan kita kurang naik atau memang kita sudah capek berenangnya. Hehehe…

Addicted

So i’m kinda addicted to this new activity. The more I learn, the more eager I am to make my moves better, if to perfect it is a bit way too much.  First weeks were killing, dan begitu pun minggu-minggu setelahnya (hohoho). And you know what, I think swimming kinda ruin my diet. Since my appetite grows a lot! I don’t know what went wrong, but I do eat a lot than before. My!

Some other things that make me addicted to go to the pool (at least) once a week are the chances to meet new people. Gue jadi punya kenalan ibu-ibu yang kalau berenang bisa 1 jam nonstop muterin kolam renang, padahal she’s over 60 years old, I believe. Dan dari hasil bincang-bincang di ruang ganti, ibu ini memang diharuskan rutin berenang oleh dokternya sebagai salah satu terapi untuk lututnya. Jadi dari beliau di kursi roda, pakai tongkat sampai akhirnya bisa jalan sendiri, semua itu hasil dari rutin berenang. Mantaf!

Observing other Club member juga menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Ada bapak-bapak around 50 years old yang kalau berenang gerakannya oke banget. Badannya slim dan he looks so fit for his age. Semua gaya renang rasanya dia bisa. Dan untuk gerakannya itu,  gue kasih dia nilai 100. Oke banget!

Juga ada mas-mas around 30 years old yang kalau berenang bajunya itu-itu aja. Well, gue juga sih itu-itu aja bajunya hehehe toh cuma seminggu sekali. Satu hal menarik dari mas-mas ini adalah, dibanding dengan bapak-bapak yang gue sebut diatas, mas-mas ini termasuk yang badannya ‘berisi’. Tapi beliau lincah loh gerakannya. Yang gue notice juga, dia bisa berenang gaya bebas, gaya dada dan gaya kupu-kupu. Dan dari keseluruhan gaya tersebut, gerakannya oke semua. Keren!

Satu lagi, ada bapak-bapak around 45 years old yang kalau berenang memadukan gaya bebas dan gaya dada. Kreatif memang tapi khawatir cedera juga sih lama-lama.

Happily!

As people say, do something happily then you’ll enjoy it. So yes, I’m happy that I can swim better now. I’m happy to be in the water for at least one hour a week, despite the effect it caused that my skin a bit darker and dryer now. I’m happy to feel worn-out yet fresh after swimming. I’m happy that I made new friends at the pool, listening to their stories and thoughts give me interesting insights about life. I’m happy that I can spare  my time to give my body its right to be treated positively. And I’m happy that canteen at the pool provides indomie goreng and rebus deliciously, and their snack – makaroni kering -, is the best I ever have!!!!

 

PS. Inspired by my dearest friend teh Yis Yusuf, who consistently spends her morning at the pool at least 3 days a week. Bravo!

 

 

 

 

 

 

 

40 & Fabulous!

Orang bilang “Life begins at 40”. Gue bilang “oh my God, 40 already ???”

Birthday Anxiety.

Kalau tahun-tahun kemarin gue masih dengan tengilnya bisa becandain teman yang ultah ke-40, tahun ini gue cuma bisa diam. And honestly, I was not excited to have my birthday this year. “Welcome to Club 40!” atau “Happy 40!” adalah the least birthday greeting I expected to hear. And I’m telling you, it sucks. Hahaha!

So this Birthday Anxiety thing, I have no idea if other people would feel the same way when they reach 40. Mungkin cuma gue aja yang lebay. Tapi yang jelas, mendadak gue berasa tua sekali. Siklus umur sudah memasuki waktu Ashar (hey you,  thanks for mentioning it!). And in no time, I’ll be in my 50s. You just can’t stop the time, huh ?! And there’s nothing you can do but live with it.

Aging. Gracefully

Lately before turning 40, gue merasakan tulisan-tulisan yang gue baca itu sering seperti berbayang bentukannya. Perlu beberapa detik untuk mata gue fokus, baru deh tulisan akan terlihat jelas. Awalnya gue kira karena efek pencahayaan sekitar yang buruk, atau kebiasaan buruk gue suka cek hp menjelang tidur pas lampu kamar udah dimatiin (Denial #1). Sampai akhirnya gue cek mata di satu Optik ternama, dan hasilnya adalah, mata gue +3/4!. Both of them!!! (WTH?)

Anyway, dari cek mata lanjut ke eksekusi pembuatan kacamata. Bikin kacamata baca aja (da*n!). Dan hanya untuk pemakaian di rumah kalau lagi maraton baca novel. Kalau di kantor sih nggak perlu karena semua masih serba jelas (Denial #2).

Malam sesampai di rumah, langsung dong pamer ke anak-anak.  Coba baca buku, koran, cek HP, dan amazingly semuanya menjadi begitu jernih dan jelas. Bahkan tulisan yang kecil-kecil di belakang botol Scion, bisa banget langsung kebaca tanpa harus pindah posisi ke bawah lampu. Am so thrilled! Bener-bener perfect for my eyes and it goes well with my look.

My look.

I don’t think my look change a lot from year to year. Masih cantik, dan gue nggak berasa kelihatan tua (to those who are ready to puke, please line up on this side). At least kalau lagi foto bareng anak-anak kantor yang umurnya di bawah gue, gue masih keliatan seumuran (hahaha — it’s either gue yang terlihat awet muda atau mereka yang terlihat older. Peace, girls!) Tapi sign of age ya tetap muncul lah. Si helaian rambut putih yang dari waktu ke waktu makin jelas nampak di kepala gue. But anyway that’s okay, they’re all neatly covered. Aman.

So it is true that age don’t lie. You can manipulate your look by looking forever young, but your body will reveal the true you. And age is not just about numbers. For some of us, age symbolizing certain milestones which are important to their life. How you treat your age disclose how you treat yourself. I might be cranky at the beginning of my 40, but then I know that I can (still) be Fabulous in my 40 and in the years ahead. It’s all up to me.

As written on my birthday card: “You’re not 40, you’re 18 with 22 years of experience!

Happy 40 to me!!

 

 

 

 

 

 

 

Teenager and the world they live in

Pernah dengar Menfess?

Menfess (Mention Confess) adalah salah satu fasilitas di Medsos berupa pesan atau kata-kata yang ditujukan untuk seseorang tanpa ada identitas pengirim (anonym). Biasanya si menfess ini dipakai untuk menyatakan perasaan suka/crush ke orang yang lagi ditaksir. Tapi, ada juga yang pakai menfess ini untuk ngebully orang, istilahnya “bashing”. Bashing ini berupa perkataan yang menjelekkan seseorang, terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut. Mirip haters lah kalau di dunia perselebritian.  Once you send menfess and tag orang yang dituju, then seantero rakyat medsos akan baca menfess itu di timeline mereka.

Kalau Bullying?

Dari seminar Parenting mengenai Bullying yang gue ikuti kemarin, Bullying adalah perlakuan tidak menyenangkan terhadap orang lain yang dilakukan secara berulang dimana korban merasa tertekan dan si pelaku mendapatkan kepuasan dari apa yang sudah dilakukannya. Bullying ini bisa secara verbal, fisik ataupun tulisan.

13 Reasons Why

Ini adalah film seri di Netflix yang diadaptasi dari novel karya Jay Asher. It is about a teenage girl who commits suicide and there are 13 reasons why she chose to do that.  Summarized from those 13 reasons, it is all about bullying and the effects it caused.

Bullying, Loneliness, Depression

Minggu kemarin, anak gue cerita kalau dia dapat kiriman menfess, a bashing one. She showed it to me and all I could say about that, it was all trash. Harsh.  Gue bisa lihat betapa sedihnya dia, kesal, dan hancur hatinya akibat si menfess ini. It was her 3rd menfess.

Lucky me, anak gue termasuk tipe ekstrovert. She likes to share stories about her friends and school. Not an open-book one, but I am glad she doesn’t keep everything by herself. Jadi waktu kemarin dia cerita mengenai kiriman menfess itu, gue bisa langsung intervensi.

Bashing menfess ini menurut gue sudah masuk ke dalam kategory bullying. Berulang kali dan jelas bikin orang yang dituju (dalam hal ini anak gue) merasa sangat tidak nyaman. And thanks to technology, the sender will stay clean.

“Ah, namanya juga anak-anak..”

Really?

Bisa bayangin nggak, kalau yang terima bashing menfess ini anaknya pendiam dan introvert. Keep everything by her/himself. Cerita ke temennya aja nggak, apalagi ke ortunya. Gue aja, as an adult, baca menfess itu ngerasa terganggu, gimana anak-anak abege itu yang masih labil emosinya. Mungkin akan ngerasa this is the end of the world. Dikirimin menfess dan seantero jagad medsos akan baca isi menfess tsb. Humiliated. Apalagi kalau isi menfess itu sama sekali tidak benar.

Hannah Baker, tokoh utama di 13 Reasons Why, memutuskan untuk bunuh diri karena mendapatkan serangkaian perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman di sekolahnya. Bullying. Direct and indirect. Physically, verbally and in writing.

Persahabatan yang dia jalin dari awal tahun ajaran baru, kemudian pecah karena masalah asmara dan kesalahpahaman. Keinginan untuk bisa diterima di pergaulan dan berteman dengan anak-anak yang dianggap keren di sekolah, menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Orang tua yang diharapkan menjadi tempat pertama untuk berkeluh kesah, sibuk dengan urusan mereka sendiri. Loneliness.

Loneliness leads to depression. Depression leads to agressive behaviour or self-destructing behaviour. But life cannot be detached from depression. How a child  is raised and taught to handle depression and how to make a child feel loved, happy and appreciated so they  can build their self-confidence and love themselves, those what matter.

Parents, let us be aware and sensitive with our children behaviour. Please do not regard every joke as “oh it’s only a joke for laughing material“. Have your children understand about the difference between bullying and joking. Teach your children to have empathy for other people’s feelings, let them be in someone else’s shoes. Yet, they need to be able to stand up and speak up for themselves. We won’t be able to be around them all the time. It is them who will deal with all the cruelty and unfairness of the world. Yes, life can be mean and it starts from their younger days.

Godspeed.