Apples to my Eyes, Lights to my Soul

Jumat, 18 Nov 2016..

Lagi asyik nyetir on the way ke sekolah si Kakak dan kantor, tiba-tiba di tengah jalan tol badan gue mendadak berasa dingin. Mulai dari kaki, tangan, rasa dingin perlahan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuh. My hands started to shake. I thought the blame was on air-cond. Turned it off, opened the car window, but it didn’t help. Mulai panik.

Keluar tol Halim, rasa dingin makin menguat. Tangan gemetar semakin kencang. Suddenly I felt so weak and headache hit me. Makin panik. I didn’t know what happened to me. Tried so hard to stay awake and focus on the road. Asked Kakak to rub my back to give some warmth, instead she searched for minyak angin then put it all over my back. She started to cry and call me, and I can’t help myself crying. Kaki gue dingin sedingin-dinginnya dan gue sempat berpikir “wah lewat deh nih gue”. Istighfar dan Syahadatain, cuma itu yang bisa keluar dari mulut gue. Doa gue semoga kalau memang ini waktunya untuk lewat, Kakak masih bisa aman selamat nggak kurang satu apapun.

I decided to reroute to my mom-in-law’s house. Along the way, Kakak hugged me so tight, put minyak angin on my back and neck, held my hand, threw her clothes around me and didn’t stop calling me. She did her best to make me stay awake and keep me warm. She cried and I knew she was panic. I tried to calm her down but she was a big girl who understood that something bad would happen if I couldn’t make it to the house.

Finally we made it to the house, Kakak made it to the school, and later on I made it to the hospital. I  had fever of 39.7 deg Celcius, very weak, and my body ached. 

Image result for mom and daughter

 

When I reflected on what had happened that Friday morning, I realized that my little girl had grown up. It was still clear on my mind how she spontaneously searched for minyak angin to give me some warmth when I told her that I was so cold and could she please rub my back. Her reactions as a 12 yo girl amazed me, apalagi dia pasti lagi panik maksimal waktu itu. Even me as an adult, belum tentu bisa bereaksi secepat dan sebagus itu. Her hug and hand held, those what strengthened me at that time. Her calling me, that was like a chant inside me urging me to fight whatever illness/condition I was having at that time. Her crying, that was my power. In a way, her crying telling me that she loves me and she can’t lose me. And I couldn’t afford to lose her either.

I am just an ordinary mom. Flaws are my middle name. Cranky is around the corner when things are not as Mom expect them to be (hah !). I often wonder if I raise my daughters well, teach them well or drill them well enough to face the life. But what had happened that Friday morning, it removed my worries. 

I always try to be a good mom for my daughters. No one is perfect, not me nor my daughters. But I know I have loved them since they were only a black spot inside my womb, and will always love them for whatever they are. I know that, like every other mom in this world, I would do everything for them. 

Apples to my eyes, Lights to my soul. Please don’t grow up so fast.

 

 

 

 

 

Cium Tangan

This may sound pathetic for some of you, tapi setelah bertahun-tahun punya anak baru sekarang gue dapat kesempatan untuk tiap hari antar salah satu anak gue (si Kakak) ke sekolahnya.

Awalnya kegiatan rutin setiap hari sekolah ini hanyalah sebatas mengantarkan sampai pintu gerbang sekolah. Kemudian tunggu si Kakak berleha-leha sejenak di dalam mobil sampai akhirnya dia turun dan gue langsung jalan lagi ke kantor.

Tapi kemudian, watching kids-drop-off activities every morning menjadi sesuatu yang menyenangkan pada akhirnya. Gue jadi tahu anak mana yang di minggu-minggu pertama awal sekolah masih diantar dan ditungguin oleh ibunya di gerbang sekolah sampai jam masuk bunyi. Gue jadi hafal, mobil ini biasanya parkir di sebelah mana atau mobil itu datangnya pasti selalu setelah gue sampai di sekolah. Gue juga jadi tahu kebiasaan teman sekelasnya si Kakak yang ibunya setiap hari mengantarkan anaknya sampai ke dalam sekolah dan mereka berdua jalan sambil bergandengan tangan. Anak cowok lho, and it looks like he doesn’t mind at all to be seen holding hands with his mom. What a bonding. Admire you for that, Mom !

Satu hal yang menarik di setiap drop-off activities adalah momen ketika anak mencium tangan ayah/ibunya sebelum dia turun dari kendaraan. Dan ini yang bikin gue suka melow nggak jelas waktu melihatnya. Karena it did cross in my mind that untuk anak tingkat SMP apalagi yang tinggal di ibukota, kebiasaan cium tangan ayah/ibu perlahan (mungkin) mulai ditinggalkan. Tapi ternyata gue salah.

Semua anak yang diantar ayah/ibunya pasti cium tangan before they are parted. Dari yang cium tangannya khusyu dan khidmat, sampai yang cium tangan sekadarnya sambil lari turun dari kendaraan. Sampai-sampai ada anak yang tangannya ditarik lagi oleh ayahnya karena ayahnya masih ingin cium kening anaknya sebelum si anak masuk ke sekolah. What a view !

Hasil gambar untuk cium tangan

Cium tangan atau salim bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi, yang berarti sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua atau dituakan. Beda dengan jaman gue dulu, anak-anak sekarang sudah dibiasakan untuk mencium tangan orang yang lebih tua dari mulai mereka kecil. Pembiasaan ini pun diajarkan dari tingkatan sekolah yang paling awal (PAUD/PlayGroup). Bahkan di beberapa sekolah, termasuk di sekolah anak-anak gue, setiap paginya beberapa guru akan berbaris rapi di gerbang sekolah untuk menyambut para murid yang datang. Murid yang datang pun kemudian berbaris rapi untuk bergantian mencium tangan para guru tersebut.

Tak hanya sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua, cium tangan pun kerap dilakukan oleh para pasangan sebagai bentuk cinta kasih dan admiration. Juga dalam beberapa tradisi, cium tangan kerap dilakukan kepada seseorang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat.

Nah, yang menariknya lagi, setelah gue perhatiin banyak anak-anak sekarang yang cara melakukan ritual cium tangan ini bukannya meraih tangan kemudian diletakkan di bibir, tapi tangan hanya ditempelkan di pipi atau di jidat. 

Either way, I find it very touching when I see this hand-kissing thing, for whatever reasons behind it. At the end, good habits always preserve themselves.