Konser Bon Jovi 2015, Kuala Lumpur

Bon Jovi Asia Tour, 19 September 2015, Stadium Merdeka KL.

Setelah absen nonton konser sekian lama (macam tiap ada konser nonton aja), akhirnya pilihan nonton konser di tahun 2015 ini jatuh ke om Bon Jovi. Booked ticket 2 months before dengan asumsi dia ga akan konser di Jakarta, ternyata konser Jakarta lebih dulu daripada konser KL. Hah ! baiklah..

Diawali dengan drama kabut asap yang menyebabkan suaminya ga bisa pulang Jumat malam dan terancam akan lonesome tonight di konser ini, akhirnya sampai juga dengan selamat di Stadium Merdeka KL. Rombongan komplit gue, Jarot, Tia, mba Ningsih, Daniel dan Syarief. Dua nama terakhir itu host kami di KL. Daniel dan Syarief WN Malaysia, and we stayed at Syarief’s house di daerah Sepang. It is a nice housing complex, bersih dan tenang. Cenderung sepi sih karena ga ada tukang jajanan lewat macam di Indonesia.

Kesan pertama dari nonton konser di negeri Jiran ini adalah, it was very well organized dibanding di Jakarta. And since Malaysia has a good public transportation system, orang2 yang datang pun rata2 menggunakan bus or LRT. Tempat parkirannya sepi. Beda jauh sama kalau kita mau nonton konser di Istora, mesti datang beberapa jam sebelum demi dapat tempat parkir. Penonton dan antriannya pun ga rusuh.

Stadium Merdeka is an old Stadium. Ga besar seperti GBK, mungkin hanya seukuran GOR Soemantri Kuningan, lebih besar sedikit lah ya. Area Tribun nya bersih, mungkin karena penjagaan ketat di entrance. Semua makanan dan minuman ga boleh dibawa masuk, even tongsis pun harus ditinggal di luar. (Dang!). Toiletnya oke lah, bersih dan ga bau. Untuk area Festival dan VIP, pengaturannya oke. Keliatan banget tertibnya. Sama seperti waktu konser di GBK, ada mobile toilet untuk area Festival dan VIP, yang gue perhatiin kok jarang banget orang yang mampir ke toilet itu..hehe.

Concert started on time, 20.30. Duration almost 2 hours. Overall it was okey, cuma menurut gue sound systemnya kurang greget. Entah apa karena pengaruh posisi gue yang duduk di tribun nun jauh diatas sana, atau gimana. Big screennya dipasang di kanan kiri panggung. Kurang besar sih kalau menurut gue. Again, mungkin posisi duduk  menentukan kualitas ya.

Review untuk om Bon Jovinya, (dari jauh) he still looks HOT and charming. Wearing black leather jacket and pants, he was handsome as usual, very attractive and dynamic. However, age don’t lie. Udah keliatan kisutnya dan suaranya pun udah ga setinggi dulu. Lagu2nya rata2 udah direndahin. Tapi masih OKE dong!  Di tengah2 konser, tiba2 Bon Jovi kasih gimmick turun dari panggung dan nyamperin baris depan penonton festival. Dari ujung kanan sampai ujung kiri dia samperin semua (rejeki anak Festival). Dan ada satu saat dimana dia nyanyi 1 paragraph sambil stay di 1 tempat. Kebayang itu yg ketiban rejeki bisa meluk Bon Jovi sepuasnya ! Dan gue sebagai anak tribun hanya bisa memandang miris dari kejauhan…hohoho how life is unfair.

Gimmick kedua adalah David Bryan nyanyiin paragrah 1 dari lagu In These Arms, dengan suara pas2an tentunya. But it was Fun ! Keyboardist Bon Jovi ini penampilannya ga berubah dari dulu, dengan ciri khas rambut kriting sebahunya. Performance dia malam itu ga kalah ciamik dengan performance om Tico Torres yang kerap kali mukanya dishoot oleh kamera. Udah keliatan tua banget ! tapi emang musikus kelas dunia internasional sih ya, udah tua gitu main drumnya juga masih kuat, meski mukanya sampai merah dan banjir keringat.

img_3423

Untuk para penontonnya, surprise surprise, ternyata dari beragam usia. Rombongan di belakang gue anak2 yang umurnya di bawah gue, dan ada salah satu dari mereka yang begitu lagu It’s My Life selesai dinyanyiin, dia teriak “oh my god, this is the only song that i know the lyrics !”. LOL. Sementara di depan gue persis, sepasang suami istri around late 40, yang outfitnya Rock to the Max — head band, black bonjovi sleeveless tshirt, jeans — tapi sepanjang konser ga ada joget2nya sekalipun ! jangankan teriak2 karaoke bareng Bon Jovi, menggoyang2kan kepalanya pun ngga !!!! Gosh…

Konser selesai, lanjut dengan wiskul ala KL.

This time, since we were going with KL native, boleh lah putar2 malam2 blusukan ke tempat nongkrong anak2 muda KL: SS 12 Murni. Exact locationnya gue lupa, yang jelas it took a while to drive there from Stadium Merdeka to this eatery. Sampai sana it was  midnight but the place was still packed !!! I ordered 3 Layer Tea and Mee Goreng Maggie. Let’s take a look:

img_3417
3 Layer Tea

This ‘3 Layer Tea’ is basically another version of Teh Tarik. But it is interesting to see there’s 3 layer that won’t mix unless you stirr it.

img_3418
Mee Goreng Maggie

When I saw the pic on menu, I expect mie goreng instant with telor dadar on top of it. Mengharapkan datang dengan potongan cabe rawit rasanya terlalu berlebihan. Jadi oke lah, gue pesan ini satu. Dan ketika orderannya datang, jreng jreng, yang ada di depan gue adalah mie goreng porsi XXXL dengan irisan daging ayam yang tebal2, bakso, dan selembar tipiiisss telor dadar di atasnya. Rasanya? typical mie goreng malay yang overrich rempah2nya.

Ok. Just call it the night. ūüôā

Taman Raudhah Masjid Nabawi, a Garden of Paradise

“Then as to those who believed and did good, they shall be made happy in¬† a beautiful garden” (Qs 30:15)

Rawdha (Raudhah), atau yang sering dibilang orang sebagai Taman Surga Nabi Muhammad SAW, terletak di dalam Masjid Nabawi. Dulu Rawdha adalah tempat Nabi Muhammad SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, dan terletak diantara mimbar dan kamar beliau. Sekarang, di dalam Rawdha terdapat makam Rasulullah SAW, dan disitu pula dimakamkan 2 sahabat terbaik Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar Bin Khattab.

Dari luar, area Rawdha ditandai oleh kubah berwarna hijau diatas masjid. Di dalam masjid, area Rawdha ditandai oleh karpet hijau yang membentang dari rumah Rasulullah SAW (sekarang makam beliau) sampai ke mimbar. Untuk jamaah laki2, waktu untuk ziarah Rawdha tidak dibatasi. Areanya pun cukup luas dan jamaah setelah sholat sunah disana biasanya masih bisa ambil foto2. Sementara untuk jamaah wanita, alamak, sudahlah waktu untuk ziarah hanya di jam-jam tertentus saja (sekitaran waktu sholat Dhuha, setelah sholat Zuhur dan setelah sholat Isya),  areanya pun terbatas. Sehingga, biasanya jamaah wanita dibagi per kelompok (berdasarkan rombongan negara) dan diatur gilirannya untuk bisa masuk ke Rawdha.

Rawdha is believed sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Apapun yang didoakan disana, Insha Allah akan dikabulkan. That’s why this not so large place is always crowded with Jamaah, 24/7. My first time experience, kami berangkat pada waktu Dhuha. Setelah sholat Dhuha, mulailah menunggu giliran. Antri. Beberapa kali berpindah tempat. Beberapa kali melewati pembatas ruangan. Sampai di depan area Rawdha nya pun, kami masih harus menunggu giliran untuk masuk. Pesan dari Ustadzah yang mengantar kita, sesampai di dalam Rawdha, langsung cari tempat yang berkarpet hijau, lalu cepat sholat sunah disana, dan sholat sebanyak-banyaknya. Setelah sholat, jangan sampai terlihat sedang dalam posisi berdoa (mengangkat tangan atau posisi berdoa lainnya) karena akan diusir oleh Askar yang menjaga, cos they will consider you are done doing your sholat. Another tips is, bacalah doa sebanyak-banyaknya pada saat sujud terakhir. Askar won’t dare to bother you when you are doing your sholat.

Begitu masuk, ternyata oh ternyata, orang-orang pada berebutan untuk dapat tempat sholat di karpet hijau. Apalagi area untuk jamaah wanita sangat kecil, tidak sebanding dengan banyaknya jamaah yang masuk.

Tapi kepadatan jamaah sangat tidak mengurangi kekhusyukan sholat dan berdoa. Punya kesempatan untuk sholat dan berdoa di Rawdha, di bekas rumah Rasulullah SAW –¬†manusia yang paling dicintai oleh Allah SWT-. di dekat makam Beliau dan sahabat-sahabat Beliau, sungguh luar biasa. Can you imagine, thousands years ago Rasulullah lived there and now I can be at the same place where he once used to be ! Cannot describe it in words.

Jadi ingat cerita ust Syauqi, kalau diibaratkan, nabi Yusuf itu bagaikan bulan — semakin dipandang semakin tampan rupanya. Sementara nabi Muhammad SAW bagaikan matahari — semakin dipandang semakin silau mata dibuatnya, saking sempurnanya beliau. Juga cerita betapa Bilal kehilangan Rasulullah ketika beliau wafat. Bilal adalah muazin pertama di masjid Nabawi, dan Bilal selalu ada mendampingi Rasulullah. Betapa Bilal sangat sedih dan kehilangan Rasulullah sampai setelah Rasulullah wafat, dia tidak sanggup menyelesaikan azannya karena selalu teringat Rasulullah. Sampai akhirnya dia pergi meninggalkan Madinah karena Madinah brought him memories of Rasulullah and it made him sad. Kemudian Rasulullah datang di mimpi Bilal, dan menanyakan kenapa Bilal tidak pernah menjenguk Rasulullah. Kembalilah Bilal ke Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah, dan atas permintaan Hasan dan Husein, Bilal bersedia untuk mengumandangkan azan lagi. Ketika dia mengumandangkan azan, terdengarlah suara azan seperti ketika zaman Rasulullah SAW masih hidup. Sangat menyentuh hati, sehingga penduduk Madinah keluar dari rumahnya sambil menangis, teringat akan Rasulullah SAW.

Yaa Nabi salam alaika, Yaa Rasul salam alaika, Yaa¬†Habib salam alaika, Shalawatullah alaika…..¬† — Siapa yang mengirimkan salam untuk Rasulullah SAW, niscaya pada saat yang sama Rasulullah mengirimkan salam kembali untuknya. Can you imagine that, betapa cintanya Rasulullah kepada umatnya.

Ok. Second experience to Rawdha.

Setelah sholat magrib, gue sama Memy, eyang uti, bu Eti dan Ita langsung pindah haluan ke pintu Babus Salam. Ikut sholat Isya disana sambil cari tempat yang dekat dengan pintu akses ke Rawdha. Beberapa lama¬†setelah sholat Isya, mulai deh tuh Askar-askar Madinah mengelompokkan para jamaah berdasarkan negaranya. Strateginya, kita mau sneaking ikut kelompok negara-negara arab, karena kalau tunggu giliran kelompok Melayu bisa lama banget nunggunya. Tapi eh tapi, jilbab gue sama Memy warnanya bukan hitam hahaha padahal udah diwanti-wanti sama bu Eti, kalau kita mau sneaking salah satu cheatnya adalah pakai baju dan jilbab hitam jadi kesaru lah sama orang-orang Arab yang abaya dan jilbabnya hitam-hitam semua. Awalnya gue sama Memy cuek, tapi lama-lama jiper juga secara Askar-askar¬†itu galak-galak kan singulair pill. Akhirnya setelah melipir kanan kiri, tinggallah gue bertiga Memy dan Eyang uti. Awalnya kita ngumpet di belakang 3 orang ibu-ibu Turki yang duduk di kursi lipat. Tapi entah kenapa, they suddenly left us. Hiks. Trus bergeserlah kita ke deket tiang, grab Qur’an dan read it. Askar won’t dare to bother you when you are reading Qur’an. Padahal saat itu, ada 2 orang Askar persis di depan kita yang matanya selalu ngliatin kita, nunggu giliran kapan kita ngeliat ke mereka karena¬†pada saat itu mereka akan ngusir kita (another tips, kalau mau sneaking jangan pernah liat mata para Askar itu hahaha ntr ketauan tipu-tipunya). Pasrah deh, sambil terus berdoa. My heart was beating so fast, adrenalin rush. Kata eyang uti, pasrah aja, kalau¬† memang rejeki pasti kita bisa masuk.

Then suddenly, eyang uti¬†berdiri dan langsung nyuruh kita ikut lari ngikutin rombongan Arab yang¬†dapat giliran pertama. Gue dan Memy langsung simpan Quran, dan lari menyelinap di antara orang-orang Arab itu, sementara orang-orang Arab itu cuma pada jalan santai. Pintu pertama, lolos. Masih sambil lari dan terus menunduk, gue terus berdoa, semoga bisa lancar sampai Rawdha, Laa Hawla Walaa Quwwata Illabillah…..dann, alhamdulillah gue, Memy dan eyang Uti berhasil masuk ke Rawdha pada saat Rawdha masih relatif sepi. Begitu sampai di karpet hijau, tears bursting out, nggak percaya bisa balik lagi ke Rawdha, padahal tadi sempat pesimis untuk bisa sneaking. Sungguh perjuangan. Tapi perjuangan untuk bertamu ke Rawdha, it is worth fighting.¬† Alhamdulillah.

It was the last night of our stay in Madinah, so it was like saying goodbye to Rasulullah. Terus berdoa supaya ini bukan merupakan ibadah terakhir di Nabawi, semoga bisa kembali lagi kesini untuk berhaji ataupun Umrah, dengan orang-orang yang gue sayangi. Berat rasanya keluar dari Rawdha.

MADINAH Al – Munawarah, 12 – 15 March 2015 (City Tour)

Masjid Quba

This is the first Masjid built by Rasulullah SAW (peace may be upon him), and it is said that whoever offers prayer of 2 raka’at in Masjid Quba, will have reward equal as Umrah. Masya Allah, Allahu Akbar.

A Masjid with simple yet elegant design/construction. Entrance for women is in the back of Masjid. Tempat sholat untuk wanita lumayan kecil, dan butuh sedikit perjuangan untuk masuk ke dalamnya. Setelah sampai di dalam pun, harus pintar2 sigap mencari celah kosong untuk sholat, karena jamaah yang datang ke Masjid ini cukup banyak ya. Kalau untuk masuknya butuh sedikit perjuangan, giliran untuk bisa keluar dari masjidnya butuh ekstra perjuangan. Gate untuk menuju/keluar tempat sholat wanita cuma 1, dan pintunya pun kecil. Jadi jamaah yang mau masuk dan jamaah yang mau keluar, semua bertubrukan di satu pintu itu. Semua sama2 ga sabar, sama2 ingin cepat¬† masuk/keluar. Ada satu saat dimana gue bener2 stuck, ga bisa maju dan ga bisa mundur, terhimpit oleh ibu2 jamaah lain. Kalau datang berombongan, better kita pegangan erat or pelukan deh sama teman satu rombongan, dan ada satu orang yg buka jalan di depan. Otherwise, you’ll get nowhere.

Masjid Quba
Outside Masjid Quba

Jabal Uhud and Makam Para Syuhada

Jabal Uhud (bukit Uhud), adalah bukit besar di Madinah dimana terjadi perang Uhud di lembahnya. Pada waktu itu, kaum muslimin dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW berperang melawan kaum musyirikin. Rasulullah SAW menempatkan pemanah2 terbaiknya di atas bukit Uhud, sehingga dapat dengan mudah mengusir mundur pasukan kaum musyirikin. Hanya saja, meski Rasulullah SAW telah berpesan bahwa apapun yang terjadi para pemanah jangan sampai meninggalkan posnya, namun karena tergoda melihat harta2 rampasan yang dibawa oleh kaum musyirikin berceceran di dalam lembah, akhirnya mereka meninggalkan posnya dan kemudian dapat dengan mudah diserang balik oleh kaum musyirikin. Pada saat itulah pasukan Rasulullah SAW mengalami kekalahan dan 70 orang sahabat gugur. Oleh Rasulullah SAW diperintahkan para pejuang syuhada dikuburkan ditempat mereka roboh, sehingga kemudian dalam satu liang terdapat beberapa pejuang dikuburkan. Sekarang, makam para syuhada dikelilingi oleh pagar tembok.

Makam Syuhada Perang Uhud
Jabal Uhud

 

Perkebunan Kurma

Basically, it is a place where they sell various types of Kurma, and its products. Your bus will stop right in front of the entrance to the kurma vendors. Tempatnya sederhana, hanya satu ruangan besar dan di dalamnya terdapat bak-bak yang berisi berbagai macam kurma dan produk-produk olahannya. Harga beda tipis dengan toko kurma di Madinah. But hey, ga afdol rasanya kalau keluar dari tempat ini ga bawa tentengan belanjaan.

Percetakan Quran (closed, too bad)

Bukit Magnet

Yang menarik dari tempat ini adalah, kalau kita sudah hampir sampai ke bukit Magnet ini, kendaraan bisa bergerak sendiri tanpa bantuan mesin. Perjalanan ke bukit Magnet ini lumayan jauh (untuk kawasan dengan jalanan sepi tanpa macet). Di kanan kiri nothing much to be seen, hanya bukit-bukit batuan dan padang pasir. Menariknya lagi, diantara pohon2 yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari itu, ada tersebar beberapa bangunan kecil permanen dengan atap tenda yang kerap dipakai orang Arab untuk plesiran. Konon tempat itu ramai di akhir minggu (malam Jumat, krn weekend disana Jumat dan Sabtu), tenda2 itu mereka sewa dan mereka pakai untuk bbq dinner with their family. Interesting. Langsung teringat rombongan orang Arab yang sering gue liat di Taman Safari, dan Kampung Arab di daerah Puncak. No wonder they love to stay there ya, sejuk, dingin, plenty of food…you name it.

Oh dan satu lagi ‘keajaiban’ bukit magnet ini adalah, terdapat lafaz ALLAH di badan bukit ini, yang sepertinya terbentuk dari bebatuan hitam.

Lafaz Allah

Umrah 2015: My Spiritual Journey ~ Madinah

MADINAH Al-Munawarah, 12 – 15 March 2015

During Madinah bound, we stayed at Hotel As-Shourfa.

Hotel ini ada di ring 3, which means hanya berjarak 3 blok dari halaman Masjid Nabawi. A small hotel but very packed. Sampai hotel sekitar jam 5, tunggu beberapa saat untuk dibagikan kunci kamar, then headed to the room. Ukuran kamar standar, isi 3 tempat tidur. Seemed like they dont have a 2-bed room. Bed sheet was dirty, and we requested for a change. What came up was a new sheet but still with shabby color. Ok. We’d deal with that.

Meals at the hotel were ok. Breakfast and dinner were served at the hotel, place was okey-lah, lebih mirip seperti kantin sih. Makanan disajikan prasmanan dan di dalam 1 ruangan ada beberapa meja prasmanan untuk beberapa rombongan grup umrah. Dan 1 meja prasmanan pun ternyata tidak hanya untuk 1 rombongan umrah saja. Rasa makanan seperti masakan rumahan, tasty and nice, menunya pun menu indonesia. Tapi jangan dilihat penampakannya cos the more you looked at it, the more you’d lose your appetite. But then seperti pembimbing AliaWisata bilang, makan saja apa yang disajikan, yang penting ada asupan untuk tenaga.

My impression of Madinah, kota ini terbilang sejuk untuk ukuran daerah yg dikelilingi oleh bukit batu. People of Madinah are very friendly. Di sekitaran hotel banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh with reasonable price. As suggested by Ustad, kalau mau belanja oleh-oleh better do it in Madinah. Karena selain barang2nya lebih bagus daripada di Mekkah, harganya pun lebih¬† murah. Dan juga supaya di Mekkah nanti kita bisa fokus untuk ibadah umrahnya saja. Ok. Noted. Then shopping was executed, dan dalam hitungan jam ternyata we already ran out of cash! Luckily, ATM indonesia bisa dipakai di mesin ATM bank Saudi. Sip. Really helpful untuk orang-orang seperti gue yang tadinya mau ngirit tapi ternyata kalah oleh godaan barang-barang lucu di Madinah. Oh, dan rata-rata para penjual di toko-toko di Madinah, they love Indonesians that much ya: they can speak Indonesian (and in some place i found people who can speak Sundanese ! haha…), Syahrini is quite famous and even they name some fashion stuff with Syahrini on it.

Masjid Nabawi

Begitu sampai di gerbang Masjid, my spontaneous reaction was WOW !!!! Ga bisa digambarkan dengan kata2. Menginjakkan kaki di tanah¬†Haram saja rasanya sudah seperti keajaiban, dan sekarang bisa melangkahkan kaki ke dalam Masjid Nabawi. Masuk ke dalam, sholat di dalam, rasanyaaa…..berjuta-juta !!!

It IS a BEAUTIFUL masjid. Cantik. Anggun. Vintage with modern feeling. It really gives me a chill right now, describing it with the whole big picture of Masjid Nabawi in my mind. Pertama sholat di dalam Masjid Nabawi, rasanya seperti berada di atas sejuta bintang, rasanya begitu dekat dengan Allah SWT, begitu dekat dengan Rasulullah, seakan Rasulullah ada di samping dan Allah SWT was just right in front of me. Every sholat was filled with tears. Tears of happiness, tears of gratefulness, tears of the feeling that I am nothing just a creation, just a speck of dust within galaxy kalo kata bang Adam Levine. I am nothing. We are nothing. Laa Hawla Wa laa Quwwata Illa billah, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah SWT. Tak akan tercapai ibadah umroh ini tanpa pertolongan Allah, tanpa ridha Allah. Setiap sholat selalu ingat dengan mamah bapak, anak-anak, hubby dan orang-orang terkasih. Doa tak lepas untuk mereka. Setiap sholat rasanya luar biasa. Setiap sholat rasanya seluruh curahan hati bursting out just like that, and it felt that Allah knows it without me have to say it in words. Very connected. Masha Allah. Allahu Akbar singulair allergy.

Akses masuk ke dalam Masjid Nabawi dibagi dalam beberapa Gate. The closest one from our hotel is Omar bin Khattab Gate. And it goes directly to Women Section. Terkenal dengan penutup halaman masjid yang berupa payung besar yang¬†bisa dibuka dan ditutup, halaman masjid terbilang bersih. Banyak jamaah yang duduk atau gegoleran¬†sambil menunggu waktu sholat. Selain terkenal dengan payung-payung cantik itu, masjid ini terkenal juga dengan Askar-askar perempuan yang selalu siaga di pintu masuk masjid, sigap memeriksa semua bawaan jamaah sebelum mereka masuk. Dressed in black abaya and niqab, rasanya para askar ini sudah tak asing lagi dengan jamaah Indonesia. Terbukti dengan mereka selalu rajin menyuruh jamaah Indonesia (melayu) masuk/rapatkan barisan by shouting “hajjah .. hajjah…indonesia..indonesia” with hands swinging urging us to follow her directions.

Ketika Payung Ditutup
Ketika Payung Terkembang

Di dalam masjid, hawanya sejuk banget. AC ditanam di dalam tiang-tiang¬†masjid, sehingga lantainya pun jadi dingin. Dominated with green color, it felt so peaceful. Tiap sudut tersedia al Quran dan they all look brand new. Mungkin secara berkala diganti ya.¬† Arsitektur dan desain masjid Nabawi bagus gus gus. Pertama kali masuk, langsung clingak clinguk dan bengong norak, takjub sama indahnya masjid Nabawi ini. Oh, dan atapnya pun bisa dibuka dan ditutup !!!!! Another norak moment, waktu lagi¬†nunggu tiba sholat isya setelah sholat magrib, tiba-tiba terasa kok ada hawa sejuk – angin semilir gitu. Begitu lihat keatas, alamak, atapnya lagi dibuka! Terlihat langit malam dan bintang-bintang…KEREENNNN !!!! Pun ketika siang sehabis sholat zuhur, lagi antri keluar masjid tiba-tiba ada keriuhan di sebelah kiri dan semua mata mengarah ke arah belakang gue. Begitu ditengok, alamak, they are opening the ceiling !!!!!!

Night sky view from inside Masjid Nabawi
Clear sky view from inside Masjid Nabawi

Selain shoppinng experience di toko-toko sekitar masjid, di area luar gerbang masjid pun ternyata berubah jadi shopping heaven di waktu sehabis sholat subuh. Banyak pedagang-pedagang¬†kaki lima yang gelaran disana. Barang yang dijual pun beragam, dari mulai pasmina, peci, kurma, kacang, gamis, hena, minyak wangi arab, keychain dll. Dan serunya, masing-masing PKL punya ciri khas sendiri. But the famous line will be: Hamzah riyal..hamzah riyal…

I do leave my heart in Madinah.

Umrah 2015: My Spiritual Journey

11 Mar 2015.

it’s been kinda roller coaster days, menuju ke tgl ini. Semua serba campur aduk. Antara excited, ga sabar, dan galau2 sedih ingat akan ninggalin anak2 di rumah cuma sama nyokap aja. Lillahi ta’ala….Bismillahirrahmannirrahim…

Went to the airport earlier, to avoid heavy traffic singulair asthma. Tak disangka, traffic was so smooth, ga ada macet2an sedikitpun. Home-airport only took 1 hour.

Sampai di bandara — Old Town Coffee –, ternyata sudah ada anggota jamaah yg tiba. Officer dari Alia pun sudah ada. Ustadnya aja yg belum ada. Tried to cheer myself up, tapi masih tetap galau karena ingat anak2 di rmh. Sampai akhirnya waktu¬†keberangkatan tiba, ustad Dadan lead a pray, a very touching pray…cant help myself crying.

Immigration, Waiting, Boarding…took off to Singapor, 1st transit.

Singapore —

Always got fascinated with Changi Airport. With all the facilities, the shops, the luxuries. 3 hours of transit. Started to miss kiddos. By 1 am, we took of to Dubai, 2nd transit.

Dubai —

The famous mega-airport. Too bad our terminal wasn’t as I expected. It was not so big, a bit gloomy (maybe because of the lights), and it was all like that — nothing special. 2 hours of transit.

UAE¬†—

Then we finally landed in Saudi Arabia. Jeddah is¬†A small airport, with the famous long queue in immigration. Tapi alhamdulillah, kemarin imigrasinya ga lama. Hanya sempat dioper satu kali aja, then it was done. Tapi emang sih beda sama petugas imigrasi di Jakarta or -apalagi- di Singapore. Mereka santai banget. Sambil ngobrol, sambil mainan HP, malah katanya ada yang sampai 3 jam utk kelar imigrasi aja. Pfheeww…

Sampai di Jeddah, lanjut dengan perjalanan darat ke Madinah, will take around 5 hours ride. Bus was so-so. Then I understand that i should not expect too much from this trip. After all, it was an Ibadah that matters, not the facilities. Our ust Dadan was accompanied by ust Sauqi, apparently he was a Mukimin in Mekkah. A small man, with dark skin, but he’s very friendly, helpful, funny, and knew a lot about Islam History.

1st stop: Masjid Terapung – Laut Merah.

Nothing much was seen here, Masjid was closed.

Masjid Terapung – Laut Merah

2nd stop: Rest Area

Nothing much could be seen along highway from Jeddah to Madinah. Sejauh mata memandang hanya ada bukit batu dan gurun pasir. Rest area di Saudi ini, seperti rest area di Indonesia, tersedia rumah makan, Masjid, dan toilet. Hanya saja toilet umum di Saudi cukup tidak terawat. Apa adanya. One unique thing that I learned here, tempat wudhunya pakai semacam tembok kecil utk tempat duduk. Nice, but for the first timer, malah jadi canggung. Repot antara wudhu sambil berdiri tapi kehalangan bangku semen itu, atau duduk tapi sambil ga terbiasa. oh well…

Final stop/1st Bound of Umraa:

Madinah.

Umrah 2015: Your Calling, My Duty [2]

Manasik.

Akhirnya, sampai juga ke minggu terakhir menjelang hari keberangkatan. and it was marked with Manasik.

Lokasi Manasik di Hotel Park Lane, Jakarta. Arrived a bit late, but seemed like they just started. Greeted by Alia Wisata staff, had ourselves a cup of tea/coffee before entering the room.

First session was about the travel. Carried out by a senior called pak Rusli (if im not mistaken). A nice old man, warm, and clear in presenting the session.

A bit confused about our itinerary with SQ. Based on SQ website, the trip is through Dubai, transit for about 2 hours. But based on Alia Wisata explanation, the trip is direct from Singapore to Jeddah, through Riyadh. Well, I guess we’ll just find out later.

Second session was about the Ibadah, at a glance. Nice topic and presented by a very commical and funny Ustadz (can’t recall the name). Rasanya campur aduk banget, antara ga sabar untuk sampai di Madinah, sholat di Raudhah, kemudian tiba di Mekkah, melihat ka’bah with my very own eyes, sholat di Masjidil Haram, dan melakukan rangkaian Umrah. But at the same time, a bit worried leaving the children and mom at home. I learn that my brother will be staying, but still, i am worried.

Then, lunch time !!!!!

All menu was delicioso !! started with Pecel, with very endes bumbu kacang. Then hit the buffet table. Sop daging kacang merah, ayam, kwetiau, seafood asam manis, enaakk banget. Pudingnya jg enak, ga terlalu manis. Kue coklatnya jg endeess….kenyang deh !

Then, we called it a day for Manasik. But a bit disappointed. Koper2 yg kita minta untuk dibawakan, ternyata wasn’t there. Apparently there was a miss somewhere in Alia Wisata. but they promised to deliver the koper on monday afternoon. And we try to have our seat booked/requested, by window. Cos thats the point why we chose flying with SQ, the formation of seat: 2-4-2. But they said they couldn’t guarantee cos SQ usually arrange our seat (group check-in) alphabetically. Good news, my name is started with letter A and i dont recall any other names with A. So if it’s our luck, i’ll be sitting by window.

but well, let’s just see…

Umrah 2015: Your Calling, My Duty [1]

H-14, to my spiritual journey to Holy Land.

If this is what they say about Your Calling, Masya Allah, i thank You dear Allah for making it happen.

It did cross in my mind several times about going Umrah, especially when i see pics of friends/fams in front of Ka’bah.
nothing can describe my longing to see Kabah right in front of my eyes.
Always wondering when will be my turn, if it will really happen, if we can afford it.

but then, God’s math is no compare to human’s.
God’s plan is beyond human’s control.
if He says it ‘be’, then it will be.

May He ease our journey before, during, and after Umrah..
aaminn..